Rabu, 17 Juni 2009

Kisah Sukses BOB SADINO


Bob Sadino adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Bob berwirausaha karena "kepepet", selepas SMA tahun 1953, ia bekerja di Unilever kemudian masuk ke Fakultas Hukum UI karena terbawa oleh teman-temannya selama beberapa bulan. Kemudian dia bekerja pada McLain and Watson Coy, sejak 1958 selama 9 tahun berkelana di Amsterdam dan Hamburg.
Setelah menikah, Bob dan istri memutuskan menetap di Indonesia dan memulai tahap ketidaknyamanan untuk hidup miskin, padahal waktu itu istrinya bergaji besar. Hal ini karena ia berprinsip bahwa dalam keluarga, laki-laki adalah pemimpin, dan ia pun bertekad untuk tidak jadi pegawai dan berada di bawah perintah orang sejak saat itu ia pun bekerja apa saja mulai dari sopir taksi hingga mobilnya tertubruk dan hancur , kemudian kuli bangunan dengan upah Rp 100 per hari.Suatu hari seorang temannya mengajaknya untuk memelihara ayam untuk mengatasi depresi yang dialaminya,dari memelihara ayam tsb ia terinspirasi bahwa kalau ayam saja bisa memperjuangkan hidup, bisa mencapai target berat badan, dan bertelur,tentunya manusia pun juga bisa, sejak saat itulah ia mulai berwirausaha.Pada awalnya sebagai peternak ayam, Bob menjual telor beberapa kilogram per hari bersama istrinya. Dalam satu setengah tahun, dia sudah banyak relasi karena menjaga kualitas dagangan,dengan kemampuannya berbahasa asing, ia berhasil mendapatkan pelanggan orang-orang asing yang banyak tinggal di kawasan Kemang, tempat tinggal Bob ketika itu.Selama menjual tidak jarang dia dan istrinya dimaki-maki oleh pelanggan bahkan oleh seorang babu.Namun Bob segera sadar kalo dia adalah pemberi service dan berkewajiban memberi pelayanan yang baik, sejak saat itulah dia mengalami titik balik dalam sikap hidupnya dari seorang feodal menjadi servant, yang ia anggap sebagai modal kekuatan yang luar biasa yang pernah ia miliki.Usaha Bob pun berkembang menjadi supermarket, kemudian dia pun juga menjual garam,merica, sehingga menjadi makanan.Om Bob pun akhirnya merambah ke agribisnis khususnya holtikultura, mengelola kebun-kebun yang banyak berisi sayur mayur konsumsi orang-orang Jepang dan Eropa dia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah untuk memenuhi order.Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan, perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira orang, dia sering berjumpalitan dan jungkir balik dalam usahanya. Baginya uang adalah nomer sekian, yang penting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan selalu bisa menemukan dan berani mengambil peluang.Bob berkesimpulan bahwa saat melaksanakan sesuatu pikiran kita berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, apa yang ada pada diri kita adalah pengembangan dari apa yang telah kita lakukan. Dunia ini terlampau indah untuk dirusak, hanya untuk kekecewaan karena seseorang tidak ,mencapai sesuatu yang sudah direncanakan.Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah, yang penting adalah action. Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan, setelah mengalami jatuh bangun, akhirnya Bob trampil dan menguasai bidangnya.Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman yang selalu dimulai dari ilmu dulu, baru praktek lalu menjadi terampil dan professional.Menurut pengamatan Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu berpikir dan bertindak serba canggih, bersikap arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Om Bob selalu luwes terhadap pelanggan dan mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan, sehingga dengan sikapnya tersebut Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelangan akan membawa kepuasan pribadinya untuk itu ia selalu berusaha melayani klien sebaik-baiknya.Bob menganggap bahwa perusahaannya adalah keluarga, semua anggota keluarga Kem harus saling menghargai, tidak ada yang utama,semuanya punya fungsi dan kekuatan sendiri-sendiri.
(sumber: Victor Buana, Peluang Usaha.web.id)

Selasa, 16 Juni 2009

KEVIN si RAJA DOMAIN

Dari seorang dokter ia beralih profesi menjadi penjual-beli situs Internet. Bagaimana liku-likunya?
Sore itu di Hotel Venetian, Las Vegas, Amerika Serikat. Seorang lelaki keturunan Korea duduk bersandar dan memperhatikan suasana lelang situs di hadapannya. Tangannya bergerak-gerak manakala ada nama situs yang membetot minatnya. Dia pun kemudian berdiri dan diam-diam memberi kode kepada anak buahnya untuk menawar domain atas nama dirinya.
Pada ajang itu, sejumlah nama dibelinya. Di antaranya, Weddingcatering.com senilai US$ 10 ribu, lalu Greeting.com seharga US$ 350 ribu. Sebagai orang Kristen yang taat, dia juga memasukkan Christianrock.com (US$ 31 ribu) dalam koleksinya, termasuk God.com dan Satan.com. Tatkala semuanya berakhir, lelaki itu menghampiri meja dan menuliskan sebuah cek untuk semua domain yang dibelinya. Angka yang tertera, US$ 650 ribu. Satu senja yang lumayan mahal.
Deskripsi di atas, yang diurai dengan apik oleh Majalah Business 2.0 belum lama ini, dipuji sekaligus dihujat banyak kalangan sebagai pembuka mata atas siapa sebenarnya sosok keturunan Korea yang satu ini, yang bernama Kevin Ham. Diberi judul “The Man Who Owns Internet”, tulisan itu membeberkan betapa kayanya si Kevin, dan bagaimana dia mendapatkan itu semua.
Kini Kevin adalah the King of Domain. Julukan lain, Raja Properti Dunia Maya. Dari tahun 2000 hingga sekarang, dia ditaksir memiliki 300 ribu domain yang telah memberinya pendapatan US$ 70 juta/tahun. Portofolio personalnya sendiri diperkirakan mendekati US$ 300 juta. Angka yang tak kecil, yang diperoleh karena kejelian — dan buat sebagian orang yang tak menyukainya, lantaran kelicikannya.
Lelaki berusia 37 tahun ini tumbuh di Vancouver, Kanada, dengan tiga saudara. Ayahnya menjalankan bisnis laundry, sementara ibunya menjadi perawat. Sempat sakit yang membuatnya mudah lemas di usia 14 tahun, mendorongnya bercita-cita menjadi dokter, yang kemudian ditempuhnya di University of British Columbia. Lulus dari sekolah kedokteran pada 1998, dia bersama istrinya tinggal di Ontario, berpraktik di rumah sakit.
Tak seperti dokter lain, Kevin adalah sosok yang unik. Di sela-sela pekerjaannya, dia memuaskan ketertarikannya pada dunia Internet yang tengah tumbuh luar biasa. Tak tanggung-tanggung, dia belajar membuat situs dan bahasa pemrograman Perl.
Saat itu, dunia Internet memang tengah bergejolak dalam fase pertumbuhannya. Salah satu informasi yang terserak adalah web hosting. Melihat hal ini, Kevin pun mulai membangun direktori online tentang penyedia jasa web hosting, lengkap dengan review dan rating atas jasa mereka. Situsnya dinamakan Hostglobal.com. Sebuah pijakan yang kelak mengantarkannya masuk ke bisnis jual-beli domain.
Ceritanya begini: sekitar 6 bulan setelah Hostglobal meluncur, dan Kevin mendapat US$ 60 ribu hasil dari penjual iklan di situsnya, salah seorang pengiklannya yang berbisnis menjual registrasi domain bercerita bahwa iklan tunggal (single ad) bisa menghasilkan sekitar US$ 1.500 setiap bulan. Tak ayal, pikiran untuk ikut mencicipi bisnis ini pun segera hadir di benak dokter muda itu.
Dalam pikiran Kevin, orang yang berbelanja untuk jasa hosting kerap kali tertarik memberi URL (alamat situs) yang menarik, atau catchy. Maka, dia pun meluncurkan direktori online kedua, DNSindex.com. Situs ini memberi layanan buat pelanggan untuk mendaftarkan nama domainnya. Hanya, Kevin menambahkan fitur yang amat diinginkan orang: daftar mingguan nama domain yang tersedia dan bisa digunakan. Dalam situs ini, beberapa nama yang ada dalam daftar dia gratiskan. Beberapa lagi, dia patok US$ 50 untuk setiap nama. Dalam hitungan bulan, pelanggannya telah mencapai 5 ribu orang lebih.
Tak dinyana, bisnis ini melesat. Pada Juni 2000, Hostglobal dan DNSindex ditaksir telah memberinya US$ 40 ribu/bulan. Angka ini lebih banyak dari yang didapatnya dari rumah sakit, bahkan dalam setahun. Akhirnya, Kevin pun mengambil tindakan penting: menanggalkan praktik kedokteran. Dia beralih ke dunia maya, untuk menjadi sang penguasa.
Bersama istri dan anaknya, dia kembali ke Vancouver, tinggal di apartemen. Ibarat botol bertemu tutupnya, saat itu, keputusan menekuni dunia domain amat tepat. Kejatuhan dotcom membuat para investor lari dari dunia web. Ratusan hingga ribuan domain yang bermunculan, mendadak menjadi tidak berarti, jatuh, atau habis masa registrasinya. Kevin pun kejatuhan durian runtuh. Dia siap memboyong domain-domain tersebut. Yang diperlukan adalah ketahanan menyeleksi satu demi satu nama situs.
Ketika itu, Networks Solutions bisa dikatakan menjadi pengontrol nama-nama situs yang catchy. Perusahaan ini adalah tempat mendaftarkan dan menjual .com. Kevin melihat, Network Solutions memang tidak memberitahukan kapan sebuah nama domain yang telah berakhir masa registrasinya akan dikembalikan ke pasar, tapi dua hari sekali ia memublikasikan master list seluruh nama yang teregristrasi, yang dikenal dengan sebutan “root zone” — kini dikelola VeriSign. Daftar ini demikian gemuknya karena memuat lebih dari 5 juta nama yang selain membutuhkan waktu lama untuk mengunduhnya, juga bisa membuat sebuah PC hang saking “beratnya” data.
Melihat peluang yang muncul, Kevin pun bertindak taktis. Dia membuat peranti lunak yang membandingkan daftar yang dikeluarkan antara satu hari dan hari-hari berikutnya. Kemudian, dia menelusuri nama yang menghilang dari root zone, dan dibuatkan daftar tersendiri. Dia menemukan fakta menarik: biasanya, sebuah nama akan menghilang setelah 5-6 hari termuat dalam root zone. Dan biasanya itu terjadi di pukul 03.30 dini hari. Bisa dibayangkan bagaimana pola kerja mendeteksi nama-nama domain yang hilang ini. Yang pasti, setelah jam-jam tersebut, Kevin menyalakan lima komputer untuk kemudian melakukan penawaran pembelian atas nama-nama yang diinginkannya.
Ketika itu, tanpa sepengetahuannya, sejumlah rival ternyata juga melakukan hal serupa. Dan dari data registrasi para pembeli, Kevin melihat sebuah nama yang banyak bermuara ke satu orang yang menjuluki dirinya sebagai “NoName”. Belakangan, diketahui bahwa ini adalah seorang programer kelahiran Cina, yang nama aslinya adalah Yun Ye, yang beroperasi dari Fremont, Kalifornia.
Sedikit tentang Yun Ye. Dia adalah sosok yang tak kalah unik. Siang hari, profesinya adalah pengembang software. Malamnya, dia meluncurkan program yang secara otomatis akan menawar sejumlah domain untuk dibeli. Kelak pada 2004, Yun dikenang sebagai “dewa” di kalangan para penjual-beli domain lantaran sukses melego portofolionya yang terdiri atas 100 ribu domain pada Marchex (perusahaan di Seattle yang menyediakan jasa online traffic lokal dan vertikal ke pedagang) senilai US$ 164 juta.
“Yun terlalu hebat,” ungkap Kevin. Toh, dia pun tak kalah hebatnya. Dia bertindak berani. Sejak para pendaftar bisa melakukan koneksi langsung ke server Network Solutions, Kevin memotong kompas. Dia melakukan deal dengan para pendaftar domain, agar bisa mendapatkan domain mereka saat keluar dari root zone. Untuk kesepakatan ini, dia menawarkan US$ 100 untuk setiap nama (normalnya US$ 8). Dalam seminggu, banyak deal bisa dibuat. Dan di akhir 2000, Kevin telah mendaftarkan sedikitnya 10 ribu domain.
Taktik ini memancing kemarahan. “Kevin datang sekaligus menutup pintu buat yang lain,” Franck Schilling, seorang penjual-beli situs, mengeluhkan. Uniknya, Franklah yang kelak justru berjasa besar buat pesaingnya itu. Itu terjadi ketika mereka bertemu di sebuah restoran, November 2000.
“Berapa banyak traffic yang kamu punya?” tanya Frank. Kevin menjawab, tak tahu. Frank pun kemudian nyerocos bahwa dia tengah bereksperimen dengan GoTo.com yang menghubungkan domain-domain miliknya dengan iklan. Mendengar ini, Kevin pun kemudian mencobanya sendiri. Dia meluangkan waktu seminggu untuk mencari tahu berapa banyak traffic pada situs-situs miliknya. Hasilnya, sungguh mengejutkan: 8 ribu pengunjung/hari. “Dari situ, saya tahu apa yang saya buat selama ini, sangat, sangat berharga,” katanya. Dia mengikuti jejak Frank, menandatangani kerja sama dengan GoTo (di kemudian hari dibeli Yahoo). Pada hari pertama, US$ 1.500 masuk ke kantongnya dari iklan yang terhubung ke domain-domain miliknya.
Akan tetapi, kejelian terbesar Kevin adalah ketika dia menyadari bahwa orang tak selamanya menggunakan Yahoo, atau kemudian Google, untuk mencari situs yang diinginkan. Kebanyakan orang mengetik sebuah nama untuk kemudian ditambahkan “.com” di belakangnya. Contohnya, memerlukan sepatu pernikahan, maka ketikkan “weddingshoes.com” (situs yang sekarang dimiliki Kevin) dan kita akan mendarat di sebuah situs yang terlihat seperti portal sepatu pernikahan, yang terhubung dengan lusinan penjual sepatu penikahan.
Di situs ini, setiap klik yang dilakukan seseorang akan menghubungkannya dengan pengiklan (penjual sepatu). Lalu, sang pengiklan akan membayar Yahoo. Dan selanjutnya, giliran Yahoo membagi hasil jualan iklan ini ke Kevin. Dari satu situs ini, dia mengaku mendapat sedikitnya US$ 9.100/tahun. Kecil memang. Hanya saja, tilik biaya untuk situsnya ini: ongkos pendaftarannya US$ 8 dan sekitar US$ 7 untuk biaya overhead per tahun. Dan pola bisnis semacam inilah yang terjadi pada domain-domain milik mantan dokter itu. Pola yang sangat menguntungkan: akhir 2002, sedikitnya US$ 1 juta mengalir ke kantong Kevin lewat model bisnis semacam ini, yang dikenal dengan pay per click.
Tak sedikit yang memuji, tapi kelak tak sedikit pula yang mencelanya. Hal ini terjadi ketika Kevin tampak semakin cermat mengeksploitasi setiap peluang dalam bisnis domain. Melihat orang sering terpeleset mengetik “.com” secara tidak utuh menjadi “.cm”, dia pun bekerja sama dengan Pemerintah Kamerun sebagai pemilik kode .”cm” — sebagaimana Jerman dengan “.de”, atau Indonesia dengan “.id”. Caranya?
Domain-domain yang belakangnya “.cm” dan belum teregistrasi akan dihubungkan oleh server di Kamerun, dengan server milik Kevin di Vancouver. Contohnya, ketikkan “paper.cm”, maka server yang dimiliki Camtel, BUMN Kamerun yang mengurusi pendaftaran domain, akan terhubung dengan server Agoga.com milik Kevin. Begitu juga bila mengetikkan “Beer.cm” (untuk mencari produk bir), Newyorktimes.cm, bahkan Anyname.cm. Semuanya akan terhubung dengan Agoga.com, situs yang berisi iklan aneka produk yang didukung Yahoo.
Berapa uang yang disisihkan untuk Pemerintah Kamerun lewat pola bisnis semacam ini, tidak diungkap oleh Kevin. Yang pasti, dia kini tengah menjajaki untuk mengulang model sejenis dengan Pemerintah Kolombia yang kodenya “.co”. Sejumlah orang bahkan menaksir Kevin akan melakukannya juga dengan Oman (.om), Niger (.ne), dan Ethiopia (.et).
Yang menarik, sekalipun begitu hebat, Kevin nyaris tak dikenal. Publikasi tentang dirinya terbilang amat minim, bahkan di wikipedia sekalipun. Namun, boleh jadi ini karena apa yang dilakukannya juga memancing banyak musuh. Di antaranya, para pengacara korporat yang menuduh penggunaan “.cm” berpotensi penyalahgunaan trademark.
Terlepas dari kontroversi yang muncul, Kevin tetap dipuja para fansnya. Dia sendiri terus aktif memburu domain. Dalam sehari, 30-100 nama domain dibelinya. Sebagai informasi, dalam tiga tahun terakhir, jumlah nama domain meningkat lebih dari 130% menjadi 66 juta domain. Setiap dua detik, satu nama bergabung.
Memang tak hanya Kevin yang melakukan profesi ini. Namun, dari segelintir orang yang bermain di dunia ini, dialah rajanya. Dunia yang disebutnya sebagai “the virtual real estate”.
Riset: Sarah Ratna
sumber: Swa.co.id

Pahit dan Getir Hingga Manis Pendiri HONDA

Namanya adalah Soichiro Honda lahir 17-nov-1906. Orang tuanya hanyalah seorang bengkel reparasi alat pertanian di desa Kamyo, distrik shizuko Jepang. Waktu kecil Soichiro sering bermain di bengkel orang tuanya, dan juga bermain di tempat penggilingan padi melihat dari dekat mesin diesel yg mjd motor penggeraknya.

Ditempat penggilingan padi ini Soichiro sangat asyik berlama2 melihat dan memperhatikan mesin di hadapnya. Diusia 8 th Soichiro biasa mengayuh sepeda sejauh 10 mil hanya untuk melihat pesawat terbang. Mungkin krn hobi dg yg namanya utak-atik, ketika diusia 12 th ia berhasil membuat sepeda pancal dg model rem kaki. Diusia 15 th, Soichiro bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya sangat senang melihat Soichiro bekerja, teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yg mencurigakan atau ada oli yg bocor tdk luput dari perhatiannya, sehingga 6 th kemudian ia di tugaskan untuk membuka cabang di Hamamatsu. Ditempat kerjanya yg baru ia selalu cepat dalam menangani keluhan pelanggan, bahkan ia menerima reparasi yg di tolak oleh bengkel lain hingga kadang kerja sampai larut malam bahkan sampai pagi.

Pada waktu itu jari2 roda mobil terbuat dari kayu, Soichiro mempunyai gagasan untuk menggantikan jari2 itu dengan logam. Dan ternyata hasilnya luar biasa, ruji2 logam itu laku keras dan diekspor ke seluruh dunia.

Setelah menciptakan ruji, Soichiro keluar dari bosnya dan membuat bengkel sendiri. Ia membuat ring piston dan idenya ini ia jual ke toyota, oleh krn dianggap tdk memenuhi standart karyanya ditolak. Karena inilah akhirnya Soichiro kuliah, menambah pengetahuan tentang mesin. Setelah pulang kuliah langsung kebengkel mempraktekkan ilmu yg baru ia peroleh dari kuliah, tapi setelah 2 th berjalan ia suka mbolos kuliah dan akhirnya ia dikeluarkan. Berkat kerja keras, ring piston buatannya diterima oleh toyota dan pihak toyota memberikan kontrak. Berita gembira baru saja ia terima, eh niat intuk mendirikan pabrik kandas, jepang dalam persiapan perang, jadi ndak ada bank yang memberikan pinjaman. Iapun tak kehabisan akal, dalam waktu yg tdk lama mampu mengumpulkan modal dari sekelompok orang utk mendirikan pabrik. Rejeki tak dapat ditolak, musibah tak dapat mengelak, pabrik yg dibangun dg susah payah dan patungan terbakar dua kali pada saat perang meletus, namun Soichiro belum menyerah.

Ia bergegas mengumpulkan karyawan dan memerintahkan utk mengambil sisa kaleng bensol yg dibuang oleh tentara Amerika Serikat utk mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi menghancurkan pabriknya, sehingga ia putuskan utk menjual pabriknya ke Toyota. Setelah itu Soichiro mencoba beberapa usaha yang lain tapi sayang semuanya gagal.

Tahun 1947 perang telah usai, kondisi ekonomi jepang porak poranda, tdk luput pula Soichiro sampai2 menjual mobilnya utk membeli makan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Eh ternyata sepeda yg dipasangi motor ini diminati oleh tetangga. Word of mouth semakin santer, hingga Soichiro kehabisan stok. Seiring berjalannya waktu, sepeda ontel+ motor kecil itu kini telah menyebar di seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Wah............Soichiro Honda.........

(Sumber: Majalah Sukses, Vol V, 20 Juli-20 Agustus 2002, hal 24-25 )

Menambah Bandwidth Internet di Windows

Memiliki koneksi internet yang cepat memang menjadi dambaan setiap orang, tapi bagaimana bila koneksi yang kita gunakan kecepatannya cuma paspasan ?
Untuk yang enggan menggunakan software untuk mendongkrak kecepatan koneksi internet yang paspasan, bisa melakukannya sendiri dengan mudah dan peningkatan kecepatannya juga akan terasa.
Pada dasarnya komputer windows sudah membatasi bandwidth koneksi internet sebanyak 20% dari total bandwidth yang seharusnya secara otomatis, jadi kalau ingin menambah bandwidth internet supaya koneksinya terasa lebih cepat bisa dengan cara mengurangi atau mengosongkan batasan bandwidth tsb.
Caranya lakukan setting seperti cara dibawah ini:
Klik Start
Klik Run
Ketik gpedit.msc
kemudian klik Ok
Setelah masuk klik Administrative Templates
kemudian Klik Network
setelah terbuka klik QoS Packet scheduler
kemudian klik Limit Reservable Bandwidth
Dan setelah terbuka ubah setting menjadi Enable
Kemudian ubah Bandwidth Limitnya menjadi 0
Klik Apply,ok
Kemudian keluar dan Restart komputer
Diarsipkan di bawah: INTERNET

Senin, 15 Juni 2009

WAROENG STEAK

Semua Berawal Dari Keterpaksaan
Pasutri Siti Hariani (35) dan Jody Brotoseno (35), pada awalnya berjualan susu segar dlm bentuk kaki lima di Solo, krn tidak membuahkan hasil yg cukup utk memenuhi kebutuhan sehari2 maka ia beralih jualan roti bakar dan jus. Usaha inipun gagal krn barang2 peralatan utk berjualan byk yg dicuri orang.
Merasa tdk berhasil berdagang makanan, mereka beralih dagang kaos, dan alhamdulillah dagang kaos partai menuai hasil yg lumayan. Berbekal keuntungan dari berjualan kaos, mereka hijrah ke Yogyakarta. Dikota Gudeg mereka menyewa sebuah rumah kecil di jln Cendrawasih No. 30, Demangan, dan bekerja di rumah makan milik orang tua Jody "Obong Steak"
Disaat kebutuhan terus bertambah, Siti Hariani atau biasa dipanggil Anik menemukan ide utk berjualan makanan spt usaha mertuannya, tp dg harga yg murah sehingga terjangkau oleh konsumen menengah kebawah dan mahasiswa.
Suami sepakat dg ide istrinya, namun waktu itu tdk punya modal utk segera merealisasikan ide tsb, waktu itu yg mereka punya hanya Rp. 100 rb. Oleh krn itu mereka menyisihkan sebagian pendapatan untuk nyicil beli peralatan dan perlengkapan.
Beberapa bulan kemudian telah memiliki sepuluh hot plate dan lima meja. Merasa cukup, pd tgl 4 september 2000 mereka berani membuka warung makan dg label " Waroeng Steak & Shake " persis di teras rumah (maklum blm mampu menyewa tempat yg lain).
Pertama kali buka langsung diserbu pembeli hingga antre, dan setahun kemudian usaha mereka bisa dibilang berhasil. Banyak pelanggan dan keuntungan, warung teras tidak mampu menampung antusias pembeli, akhirnya mereka membuka cabang di jl. Colombo Yogyakarta, tdk jauh dari warung yg pertama.
Dg harga yg murah yakni dari Rp. 13.500 - Rp. 30.000 utk steak original dan Rp. 9.500 - Rp. 15.000 utk steak goreng tepung serta minuman dari Rp 500 - Rp. 8.000. Pemasaran makin meluas, dan hingga kini " waroeng steak "telah menjadi 31 outlet tersebar diberbagai kota di Indonesia dg omset mencapai Rp. 3 m per bulan tanpa waralaba alias milik mereka berdua.
Setelah sukses dgn Waroeng Steak kini usaha mereka melebar yakni Bebaqaran ( 40 outlet )yg menyediakan menu ikan

Kamis, 11 Juni 2009

Gitar Keren produk Dalam Negeri Eksis hingga Luar Negeri

Satria Nugraha atau biasa disapa Hanung Squad lahir pd tgl 29 Des '81.
Sejak di bangku kelas 2 smp, Hanung mulai belajar gitar milik kakaknya, hingga sma, dan telah memiliki group band yang diberi nama Blok C Band. Setelah memiliki group band dg teman2nya mereka aktif mengikuti parade band dan pentas sekolah dan pernah juga diminta pentas disejumlah cafe di semarang.
Lulus sma, hanung melanjutkan kuliah di Bandung, oleh krn tdk ad teman yang mau diajak membentuk group band akhirnya Hanung hanya menjadi gitaris untuk dirinya sendiri.
Suatu ketika, Hanung kepincut gitar bermerk Ibanez produksi Jepang seharga Rp 19 jt, tp krn tdk punya uang sebanyak itu akhirnya Hanung pergi ke perajin gitar di jln sarijadi bandung, untuk dibuatkan sebuah gitar yang speknya sesuai dg keinginan hanung. Melihat kinerja pembuat gitar dg keahlian yg dimiliki, hanung mengajak kang Wawan (pemilik workshop) untuk bikin usaha bersama.
Gayung bersambut, kang Wawan setuju. Dg modal sekitar Rp 10 jt usaha bersama workshop gitar dimulai. Awal membuka workshop, pelanggan terbatas hanya teman2nya saja, itupun hanya menservis gitar dan hanya satu-dua org yg memesan gitar dgn bayaran yg blm menguntungkan. Untuk menjangkau pasar yg lebih luas, hanung membuat website, dan ternyata benar, dari website ini hanung menjaring banyak gitaris lokal hingga mancanegara.
Salah satunya seorang pria dari belanda meminta untuk dibuatkan gitar jenis traveling, dalam tempo 3 minggu gitar pesanan siap dikirim, tp hanung tdk mengerti bgmn cara mengirim barang keluar negeri, atas peertolongan teman akhirnya beres sudah kendala pengiriman. Pesanan pertama sukses (satu gitar)
Masih dari org belanda, pesanan yg kedua meningkat menjadi 250 buah gitar. Pengusaha pemula ini kelimpungan, sampai2 meminta pemesan untuk datang ke indonesia. Akhirnya tamu dari belanda itu datang juga ke bengkel Hanung. Setelah ngobrol panjag lebar megenai pesanan yang kedua akhirnya deal juga, lancar..........sepakat.......beres.
Keuntungan ia belikan alat2 pemotong otomatis dan membuka workshop yg lebih luas.
Usaha bersama kini makin maju, tidak hanya eksis di tanah air tapi gitar dg merk Stranough mampu menembus pasar luar negeri: singapura, malaisia, jepang, australia hingga belanda.
Sejumlah gitaris band kelas dunia mempercayakan gitarnya kpd hanung, namun oleh krn terikat kontrak dg buyers hanung tidak mau menyebut siapa saja mereka.
Hanung telah memiliki omset sekitar Rp3 m pertahunnya. Berkat hobi dan kerja kerasnya Hanung masuk tiga besar Djie Sam Soe Award 2009.
( sumber : tabloid Nyata edisi 1978, 1 juni '09, hal 48-49 )